Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi Rusak, Akibat Tata Kelola tidak Akuntabel

Lokakarya Forum DAS Sumsel

Palembang-Spora, Program Restorasi Fungsi Ekosistem DAS Musi mendesak untuk segera dilakukan, karena DAS Musi telah rusak yang ditandai dengan semakin meningkatnya kejadian banjir, kekeringan, tanah longsor, erosi, sedimentasi dan semakin menurunnya kualitas air, demikian diungkapkan Ketua Forum DAS Sumsel, Dr. Ir. Edwar Saleh, M.S. saat berlangsung Lokakarya Pengelolaan DAS sebagai Restorasi Ekosistem DAS Musi dengan tema “Banjir Jakarta Jangan Datang Ke Sumsel” yang diselenggarakan hari ini (29/3) di Hotel Swarna Dwipa Palembang.  Restorasi ekosistem DAS dimaknai sebagai mengembalikan fungsi lingkungan seperti fungsi hidrologi aliran sungai seperti semula,  bukan mengembalikan bentuk fisiknya. “Kita tidak bisa menghentikan pembangunan” kata Edwar.

Menurut Chay Asdak, Ph.D  dari Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang menjadi narasumber pada lokakarya tersebut, pengelolalaan DAS yang berkelanjutan harus dilakukan dengan prinsip akuntabilitas dan partisipatif.  Persoalan ke depan bukan menyangkut persoalan teknis saja tetapi lebih menyangkut persoalan non teknis seperti komunikasi, koordinasi dan membangun kepercayaan (trust) para pihak yang berkepentingan. Selain itu keberhasilan dari pengelolaan DAS ini sangat ditentukan dari peran lokal secara kultural bukan lagi persoalan struktural.

Pada kesempatan lain, saat diskusi terbatas di sekretariat Yayasan Spora.  Persoalan rusaknya daerah aliran sungai, salah satu penyebabnya adalah Tata kelola hutan dan lahan di Sumsel yang tidak Akuntabel, partisipatif dan Transparan.  Hasil studi yang dilakukan oleh Spora berdasarkan persepsi masyarakat terhadap ketiga indikator tersebut menunjukkan indikator akuntabilitas berada pada kriteria rendah, partispatif sedang, dan transparansi rendah.

Pada kesempatan lokakarya ini juga hadir berbagai pemangku kepentingan selain dari pemerintah daerah dan akademisi, juga hadir Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Wahana Bumi Hijau (WBH) dan Yayasan Spora (S01)