Sebelum Terlalu Jauh Melaju

Oleh: Bertha Bohemia

Disclaimer: Membaca tulisan Bung Dani dan Bung Tax (Link di bagian bawah) seperti menyiramkan kopi panas ke dada yang sudah penuh luka terbuka. Saya sempat tersenyum kecil, lebih ke senyum getir yang hanya muncul ketika seseorang merasa akhirnya ada yang bilang apa yang selama ini ingin dia teriakkan. Saya bahkan sempat teriak dalam hati, “Akhirnya!” Tapi lalu, sesuatu memuncak. Saya menutup tab browser, membuka laptop, mengetik ini sambil menggigit bibir, menahan perih. Karena diam membuat sesak dan sesak itu, jika terlalu lama dibiarkan, bisa berubah jadi lelucon yang ditertawakan bersama.

 “Bagaimana mungkin diminta memahami struktur kekuasaan, sementara struktur pertemanan saja bisa menghancurkan tanpa proses?”

Menjadi perempuan saja sudah cukup melelahkan tapi menjadi perempuan di dalam gerakan yang katanya “milik bersama” bisa terasa seperti hidup dalam laboratorium Foucauldian kita diatur, diawasi, dinilai, lalu disingkirkan ketika bicara terlalu banyak atau ketika cerita kita tidak sesuai dengan narasi dominan. Tubuh ditafsir, suara kami dikomentari, dan chat pribadi dijadikan alat pembuktian tanpa konteks, tanpa etika, tanpa kesempatan untuk menjelaskan. Semua bebas mengakses, ingin tahu rasanya? Saya tak berlebihan jika bilang itu semua rasanya seperti ditelanjangi. Saya tahu kalian tidak sedang bicara tentang saya. Tapi saya sedang bicara tentang saya dan tentang bagaimana ruang yang kalian sebut-sebut sebagai arena politis, ternyata tak pernah cukup adil saat luka bersifat privat.

Bung Dani, ketika saya membaca tulisanmu tentang perlunya merebut kekuasaan, saya teringat pada Hannah Arendt. Ia pernah menulis bahwa kekuasaan hanya bisa mewujud ketika kata dan tindakan tidak saling meninggalkan. Sayangnya, yang saya saksikan dalam gerakan saat ini justru sebaliknya, kata-kata tentang kekuasaan alternatif berhamburan, tetapi ruang untuk mendengarkan suara yang sedang dihancurkan justru terus disempitkan. Kau menulis bahwa kita tidak bisa hidup selamanya dalam trauma. Tapi bagaimana bisa hidup dalam strategi, jika trauma bahkan belum sempat dimengerti? Kau bicara tentang perubahan sistemik, tentang kebutuhan mendesak membentuk kekuatan politik alternatif. Tapi di kota ini, sistem informal melalui bisik-bisik, penghakiman kolektif, sirkulasi tangkapan layar lebih menentukan hidup mati seseorang dibanding sistem hukum atau konstitusi manapun. Dan saya adalah salah satu bensin yang mereka sulut.

Bung Tax, saya menikmati metafora-metafora yang kau pilih: tentang babi, serigala, domba tapi izinkan saya bertanya, adakah tempat bagi yang bukan hewan ternak, bukan predator, bukan korban suci dalam cerita yang kau bangun? Saya membaca Cruel Optimism-nya Lauren Berlant, dan saya kira itulah yang banyak dari kita alami: bertahan di ruang yang menyakiti karena terlalu percaya bahwa ia bisa berubah. Saya tidak sedang menulis ini untuk memperdebatkan siapa salah siapa benar. Saya hanya ingin menceritakan rasa takut saya setelah chat pribadi saya tersebar dan ditafsir seenaknya;

setelah saya diberi label “pelaku” tanpa ruang klarifikasi; setelah saya diminta redam demi “kondusifitas”; setelah saya ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu saya bantu fasilitasi pelatihan feminisme. Apakah ini yang dimaksud dengan pengorganisasian baru? Ataukah ini hanya cara yang lebih rapi untuk membungkam, tanpa harus menyebutnya kekerasan simbolik?

Kalian bicara tentang merebut panggung. Saya sedang mencari tempat untuk duduk, tanpa harus diusir. Kalian bicara tentang strategi besar dan mimpi jangka panjang. Saya sedang mencari kalimat yang bisa menjelaskan bahwa saya bukan monster dari tangkapan layar yang kalian lihat. Kalian bicara tentang membangun partai, konstitusi baru, kekuasaan alternatif. Tapi saya bahkan tidak tahu cara merebut kembali hak saya sebagai manusia biasa yang ingin suaranya didengar bukan karena dia kuat, tapi karena dia sungguh terluka.

Saya tidak marah pada kalian. Saya marah pada cara gerakan di kota ini tak memberi waktu untuk pulih. Saya teringat kata-kata bell hooks “there can be no love without justice.” Dan saya tahu, cinta saya pada gerakan ini sedang digerus oleh ketidakadilan yang terlalu sering dianggap terlalu remeh untuk dibicarakan.

Kalian berpikir terlalu maju, Bung Dani, Bung Tax. Gerakan di kota ini masih bekerja dengan cara lama menghukum lewat narasi, menyaring solidaritas lewat afiliasi, dan mendiamkan perempuan yang terlalu banyak tahu. Kalian sudah berbicara tentang imajinasi politik yang radikal. Tapi kini kita masih hidup di dalam dinamika sosial yang tak pernah kalian tuliskan bahwa luka hanya layak didengar jika dituturkan dengan tenang, rapi, tidak terlalu emosional, dan disetujui oleh lingkaran pengambil keputusan, yang sebenarnya itu-itu saja orangnya karena adanya penokohan dan konformitas yang tinggi. Tokoh kunci bilang ‘usir dia!’ maka yang lain mengikuti bagai cecunguk. Tanpa forum. Tanpa proses. Semua hal tentangmu akan ditelanjangi dan dikomentari.

Mungkin benar, tulisan kalian terlalu jauh ke depan tapi kami yang di sini masih harus bergulat dengan realitas yang begitu lamban berubah dan jika benar kalian ingin membangun gerakan yang layak dihuni, mungkin kita harus mulai dari hal yang lebih sederhana, belajar mendengar suara yang paling dianggap tidak penting. Maka, Bung Dani, Bung Tax, tolong, sebelum kalian terlalu jauh melaju, ingatkan kanan kiri di kota ini yang ternyata masih sangat jauh dari kata maju. Ingatkan mereka yang menghakimi dan mengusir bahwa cara kerja gerakan di kota ini yang kalian diamkan itu tidak lebih baik dari “pemuja donor” yang Bung Dani sebut, atau “babi dan serigala yang culas” yang Bung Tax tulis dengan getir.

Kepada Bung Tax – Asmaran

Kepada Asmaran Dani – SIRINE POBHIA

Berkomentar