Kalidoni, dari Hutan Pinus di Skotlandia ke Rawa Gambut

Oleh Taufik Wijaya
SALAH satu nama kampung di Palembang, yang dinilai banyak sejarawan di Palembang tidak berkarakter penamaan kampung etnis melayu; umumnya nama kampung etnis melayu diambil dari hal yang menonjol di alam atau lingkungan wilayah kampung tersebut, yakni kampung Kalidoni. Dari sebuah nama kampung, kini Kalidoni menjadi nama kelurahan dan kecamatan. Dan, saya beruntung menetap di kampung Kalidoni.
Kalidoni sangat penting di Palembang. Sebab di kampung Kalidoni berada sebuah perusahaan pupuk, yang pernah menjadi pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara, yakni PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri). Tidak heran, sebagian besar karyawan perusahaan tersebut menetap di Kalidoni.
Tidak itu saja, Kuto Gawang—yang sebagian besar lokasinya kini menjadi pabrik PT Pusri—berada di Kalidoni. Kuto Gawang merupakan “kota” di masa Kerajaan Palembang, yang hancur karena serangan VOC. Sebagian arkeolog pun yakin, Kuto Gawang sudah ada di masa Kerajaan Sriwijaya. Ini dikarenakan sejumlah prasasti Sriwijaya, seperti Prasasti Telaga Batu, ditemukan di sekitar Kuto Gawang.
Dengan fakta tersebut, sebenarnya nama Kalidoni menyimpang dari sejarah wilayah yang sebagian rawa gambut, yang dulunya terdapat sejumlah sungai kecil yang mengalir ke Sungai Musi. Kini yang masih tersisa Sungai Buah. Kebetulan pula tulung Sungai Buah berada di belakang rumah tempat saya menetap. Tapi sebagian besar tulung Sungai Buah ini sudah ditimbun dijadikan pemukiman penduduk. Kini tersisa sebuah parit yang melingkari sejumlah rumah.
Nama Kalidoni sendiri dikenal sejak tahun 1970-an. Sebelumnya nama kampung ini Talang Penyemutan. Nama Kalidoni muncul karena di kampung ini terdapat sejumlah keluarga mantan kuli kontrak di masa Kolonial Belanda di Kalidonia Baru atau Nouvelle-Calédonie dalam Bahasa Perancis. Mereka berasal dari Jawa. Kalidonia Baru sebuah kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik sebelah barat daya. Penduduk aslinya masuk Melanesia. Kalidonia Baru merupakan wilayah jajahan Perancis.
Tidak heran, sejumlah kakek atau nenek yang saya temui di masa kecil di Kalidoni—hampir semuanya telah meninggal dunia—mampu berbahasa Perancis. Kata yang selalu saya ingat sampai sekarang saat diajari Mbah Woro yakni “Rue” yang berarti jalan.
Mengapa mereka menjadi kuli kontrak di Kalidonia Baru? Ternyata, berdasarkan aturan “Koeli Ordonantie” pada 1880 yang mengatur hubungan kerja antara buruh dan majikan untuk menjamin ketersediaan tenaga kerja di perkebunan Belanda di Sumatra, Perancis meminta bantuan Belanda untuk menyediakan buruh untuk pertambangan nikel dan perkebunan di Kalidonia Baru. Dikirimlah 170 pekerja dari Pulau Jawa dan tiba di Kalidonia Baru pada 16 Februari 1896. Sejarah ini hampir sama dengan kehadiran pekerja dari Jawa ke Suriname.
Lalu, dari mana asal nama Kalidonia Baru? Menurut sumber yang dikutip dari Wikipedia, nama ini diberikan oleh James Cook, penjelajah dari Kerajaan Inggris, pada 1774, saat melakukan perjalanan kedua di kawasan Pasifik. Nama ini diambil dari tanah kelahirannya di Skotlandia. Pada 24 September 1853, Kalidonia Baru dikuasai Perancis saat pemerintahan Napoleon III.
Hutan di dataran tinggi
Selasa (08/12/2015), saya terkejut ketika menonton siaran televisi BBC Earth yang mengulas hutan di Skotlandia. Hutan pinus yang berada sekitar 1.000 meter dari permukaan laut itu, kini mengalami kerusakan akibat penebangan dan perkebunan tersebut, ternyata bernama Caledonia!
Mungkin, keperawanan hutan ini yang menginspirasi James Cook menamai kepulauan yang ditemukannya dengan nama New Caledonia atau Kalidonia Baru, yang mana saat dikunjungi Cook, hutannya masih lebat dan perawan seperti hutan Caledonia.
Lalu, nama Caledonia itu dari mana? Ternyata nama itu diberikan oleh bangsa Romawi saat menyerang Skotlandia. Caledonia itu sendiri berarti “hutan di dataran tinggi”. Karena rapatnya hutan ini, para tentara Romawi pun tidak mampu menggunakan kuda untuk menarik keretanya. Mereka akhirnya menggunakan kelompok anjing untuk menarik kereta.
Kembali ke Palembang. Dengan sejarah panjang nama Kalidoni ini, sungguh tidak terbayangkan satu wilayah rawa dan gambut dangkal yang jauh dari Skotlandia dinamakan “hutan di dataran tinggi”. Termasuk bangsa Romawi yang memberikan nama tersebut, mungkin tidak terbayangkan nama itu kemudian menjadi nama kampung yang jauhnya ribuan kilometer dari Roma, yang mana sebagian rawa atau salah satu kawasan resapan air di Palembang ini ditimbun menjadi perumahan, perkantoran, dan rumah toko, sehingga sebagian pemukiman selalu banjir saat musim penghujan.
Yang memberikan kesan pantas nama “Kalidoni” bagi daerah yang berada di sebelah timur Palembang ini yakni nama diberikan berdasarkan hal yang menonjol di alam atau lingkungan sebuah wilayah. Persoalannya, nama ini pada akhirnya menjadi salah penempatan.
Satu harapan saya. Seperti halnya spirit para pemimpin Kerajaan Sriwijaya maupun masyarakat di sekitar hutan Caledonia di Skotlandia, masyarakat Kalidoni di Palembang senang, sayang menanam dan menjaga pohon.*

Ada 1 komentar

  1. Muhammad Hanif berkata:

    Selamat Malam Pak…
    Izin bertanya , untuk sejarah ini bapak mengambil data darimana yaaa…
    Dan jikalau saya di izinkan untuk melakukan wawancara bersama bapak..
    Seputar asal muasal kalidoni
    Terima kasih atas kesempatan nyaa

Berkomentar