Spora – Palembang, Di tengah pembangunan saat ini yang cenderung sentralistik atau Top Down, Sarekat Hijau Indonesia (SHI) kembali menggaungkan gagasan pembangunan desa yang partisipatif dan berkelanjutan melalui Pelatihan Participatory Rural Appraisal (PRA). Kegiatan yang digelar di Sekretariat SHI DPW Sumatera Selatan pada Sabtu (16/5/2026) ini menjadi wadah pembelajaran untuk memperkuat kapasitas kader, pegiat lingkungan, mahasiswa, dan warga dalam memahami metode partisipatif untuk pembangunan desa.
Pelatihan dirancang untuk menanamkan pemahaman bahwa masyarakat bukan sekadar objek, melainkan subjek utama dalam proses pembangunan; mereka harus dilibatkan aktif mulai dari identifikasi masalah hingga pengambilan keputusan di wilayahnya. Ketua SHI Sumatera Selatan, Muhammad Husni, S.P., M.Si., membuka acara dan menegaskan pentingnya pendekatan PRA sebagai sarana untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat sehingga pembangunan desa berwatak Bottom Up dan berkelanjutan.
Dua narasumber akademisi tampil dalam sesi pelatihan. Pada sesi pertama, Dr. Ir. Yulian Junaidi, M.Si. memaparkan konsep dasar PRA dan perannya dalam meningkatkan partisipasi masyarakat desa. Ia menjelaskan bahwa PRA merupakan kumpulan pendekatan yang memungkinkan warga berbagi, menganalisis, dan memperkaya pengetahuan tentang kondisi hidup serta sumber daya lokal, serta menekankan bahwa keterlibatan sejak awal meningkatkan partisipasi akar rumput dalam pelaksanaan program di pedesaan. Berbagai teknik PRA diperkenalkan, termasuk pemetaan partisipatif, transek wilayah, kalender musim, diagram kelembagaan, dan analisis potensi serta masalah desa. Secara garis besar berbagai data yang dikumpulkan dapat dikategorikan kedalam Dimensi Waktu, Dimensi Ruang dan Dimensi Kelembagaan.
Sesi kedua disampaikan oleh Nurilla Elysa Putri, S.P., M.Si., Ph.D., yang menitikberatkan pada praktik lapangan dan peran fasilitator. Ia menegaskan bahwa keberhasilan PRA bergantung pada kemampuan fasilitator membangun komunikasi inklusif yang menghargai pengetahuan lokal dan melibatkan semua kelompok masyarakat. Nurilla menambahkan bahwa praktik langsung di lapangan penting karena peserta belajar mendengar, memfasilitasi, dan memahami persoalan dari perspektif warga. Semua data yang dikumpulkan dilakukan sendiri oleh masyarakat, dan Tim yang datang dari luar desa hanya sebagai fasilitator yang memperlancar proses tersebut
Peserta mengikuti simulasi dan tahapan praktik lapangan agar dapat menerapkan metode PRA dalam pendampingan masyarakat dan pengembangan program desa. Suasana pelatihan berlangsung interaktif dengan diskusi, tanya jawab, dan tukar pengalaman lapangan yang antusias. SHI Sumatera Selatan berharap pelatihan ini melahirkan kader pendamping yang berpikiran partisipatif dan mampu mendorong pembangunan desa sesuai kebutuhan masyarakat, sekaligus menegaskan komitmennya memperkuat kapasitas masyarakat dan mengembangkan gerakan sosial-ekologis untuk mewujudkan desa mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.
