Budi Pekerti : Alienasi Kesadaran Kritis Dari Imagineri Karakter Protagonis “Prani” Dalam Era Penolakan Conscientizacao

Oleh: Della Rosa

Hidup satu keluarga berubah drastis hanya karena video dua puluh detik. Itu lah satu kalimat yang mewakili salah satu film terbaik di tahun 2023, Budi Pekerti. Budi Pekerti menceritakan tentang protagonis bernama bu Prani yang merupakan seorang guru BK di suatu SMP di Yogyakarta. Bu Prani mengalami perundungan akibat keviralan videonya yang diduga mengumpat ke pada mbok Rahayu, penjual putu yang sudah tua. Bu Prani dan keluarganya berusaha untuk mencari jalan keluar atas masalah tersebut.

Pengenalan film dibuka dengan keluarga bu Prani yang sedang berlibur di pantai. Terlihat bu Prani yang sedang duduk di sebuah gazebo memberikan refleksi ke Daru, anak muridnya yang merundung teman kelasnya, melalui online meeting. Bu Prani memberikan refleksi agar umpatan “bodoh, goblok, tolol, pethuk, ubur-ubur” yang ia lontarkan ke teman kelasnya diputar berulang-ulang pada praktikum kecambah, untuk melihat perbandingan kecambah yang didengarkan dengan yang tidak didengarkan umpatan tersebut. Terlihat juga di tepi pantai, Muklas, anak laki-laki bu Prani yang sedang membuat konten endorsement di depan ringlight dan tripod dengan gimik olah tubuhnya. Di samping itu, Tita, anak perempuan bu Prani, sedang memotret baju-baju trifthing bekas pakai untuk dijual di sosial media. Sedangkan pak Didit, suami bu Prani yang mengidap bipolar, hanya termenung dengan tatapan sendu. Adegan ini diciptakan untuk membangun karakterisasi pada keluarga bu Prani yang memiliki lapisan karakter yang beraneka ragam. Latar tempat pantai juga menjadi simbol ketenangan. Semua terasa tenang sebelum masalah yang besar datang.

Adegan konfrontasi pertama mulai terbentuk saat bu Prani bertemu Gora, murid lamanya di rumah sakit dan mengetahui bahwa putu mbok Rahayu yang biasa ia beli saat SMA kini berjualan di pasar. Bu Prani meminta Muklas dan Tita membelikan pak Didit putu mbok Rahayu karena ia memiliki jadwal latihan lompat tali, namun keduanya menolak karena sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Akhirnya, bu Prani pergi ke pasar sendiri untuk membeli putu tersebut. Ternyata, putu mbok Rahayu sangat ramai pembeli dan bu Prani harus menunggu giliran antreannya. Saat sedang menunggu antrean, bu Prani mendengar seorang bapak-bapak dengan baju gambar elang menyerobot antrean dengan menitipkan nomornya pada orang yang lebih dahulu datang. Melihat hal tersebut, bu Prani menegur bapak itu. Namun, bapak tersebut malah naik pitam dan berkata bahwa dia adalah saudara dari orang yang datang lebih dahulu tersebut. Mereka beradu argumen sampai semua penunggu antrean menonton perseteruan antara bu Prani dengan bapak berkaos gambar ulang. Bu Prani lalu meninggalkan pasar tersebut dan berkata “ah sui” yang terdengan seperti “asui” yang terlihat seperti dilontarkan ke pada mbok Rahayu. Bu Prani lalu pergi dari pasar dan bergegas ke tempat latihan lompat tali dalam rangka mengikuti perlombaan. Setelah memperingatkan kebenaran pada seseorang, bu Prani mendapat masalah. Hal ini berkaitan dengan filosofi permainan lompat tali, bahwa semakin kita tumbuh dewasa, rintangan dan tantangan hidup kita pun semakin bertambah, Dengan memperjuangkan kebenaran, itu menandakan bertambahnya kedewasaan bu Prani. Bu Prani tidak menoleransi dan membiarkan perilaku menyerobot antrean. Bertoleransi berarti membiarkan nilai-nilai yang menurut kita bertentangan. Bu Prani tidak toleran terhadap hal-hal yang dianggapnya salah.

Video dua puluh detik yang diduga umpatan bu Prani ke pada mbok Rahayu lalu tersebar di internet. Bu Prani mengetahui hal tersebut dari salah satu muridnya saat ia melakukan online meeting di kelas yang sedang ia ajar pada saat itu. Bu Prani memberikan refleksi ke pada murid tersebut untuk menulis sandi morse karena ia tidak mengenali teman- temannya setelah sudah sekolah selama dua bulan. Murid tersebut mengumpat dan bu Prani menegurnya. Murid tersebut berkata “bu Prani aja boleh kok misuh” dan menampilkan video dua puluh detik tersebut. Saat bu Prani pulang ke rumah, Muklas dan Tita juga memberi tahu bahwa video bu Prani sedang diperbincangkan secara negatif di dunia maya. Namun, bu Prani tetap tenang dan berkata bahwa ia tidak mengumpat “asui” pada mbok Rahayu. Ia menjelaskan bahwa ia berkata “ah sui”. Dalam Bahasa Jawa, asui bermakna “anjing” sedangkan ah sui bermakna “ah lama”.

Bu Prani dengan kedewasaannya sendiri sudah mencapai level kesadaran kritis. Menurut analisis Paulo Freire yang dikutip oleh Mansour Fakih bahwa ada tiga kesadaran yang menjadi turunan dari paradigma pendidikan. Tiga kesadaran tersebut adalah kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis (magical consciousness) adalah tingkat kesadaran manusia (masyarakat) yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Ketidakmampuan seseorang melihat hubungan peristiwa-peristiwa sosial dalam masyarakat yang mempengaruhi hidupnya membuat seseorang cenderung memaknainya secara magis. Lalu, ada kesadaran naif yang disebut juga dengan kesadaran transisi. Pada kondisi kesadaran naif (naival consciousness) ini individu mengetahui bahwa sistem mempengaruhi dunia sosiokulturalnya, namun tidak berusaha untuk merubah sistem tersebut. Sementara, kesadaran kritis (critical consciousness) adalah kesadaran yang menganggap semua fakta sebagaimana adanya secara empiris dalam korelasi kausalitas dan lingkungannya. Bu Prani berada di dalam level kesadaran kritis karena menganggap menyerobot antrean adalah hal yang salah dan pelaku penyerobot antrean tersebut harus diperingatkan agar kebenaran dapat diberlakukan. Sedangkan, orang-orang yang menormalkan penyerobotan antrean merupakan manusia yang masih berada di level kesadaran naif karena mereka mengetahui bahwa perilaku tersebut salah dan melanggar norma, namun mereka membiarkan hal tersebut karena hal -tersebut terlihat seperti sebuah kenormalan di masyarakat. Bu Prani yang memiliki level kesadaran kritis menjadi teralienasi di tengah-tengah konstruksi sosial yang masih berada di level kesadaran naif karena tidak berada pada level kesadaran yang sama. Kesadaran kritis tumbuh bukan melalui usaha intelektual semata-mata, namun melalui praksis perpaduan antara aksi dan refleksi.

Refleksi merupakan kata yang sering kita dengar di film Budi Pekerti. Bu Prani selalu memberikan refleksi ke murid-muridnya jika mereka berbuat kesalahan. Bu Prani tidak menyebutnya hukuman, melainkan refleksi. Bu Prani tidak menghukum dan tidak menggurui namun mengajak murid-muridnya untuk merasakan sendiri dan mengamati pengalaman atas perbuatan yang mereka lakukan. Hal ini sejalan dengan filsafat pendidikan Paulo Freire yang menerangkan bahwa kesadaran baru hanya dapat dicapai melalui pengalaman hidup. Pendidikan harus bersifat emansipatoris (murid harus menjadi partisipan aktif, bukan objek yang pasif). Refleksi yang diberikan bu Prani ke pada murid-muridnya menjadi bagian dari proses belajar melalui pengalaman hidup mereka. Mereka melakukan refleksi dari realitas yang mereka alami sendiri sehingga terjadi praksis. Pendidikan sendiri merupakan satu proses transformasi membentuk dunia baru yang terbebas dari dehumanisasi. Sehingga relasi antara guru dan murid tidak lah boleh sebagai subjek dan objek, seperti teko yang mengisi gelas kosong. Relasi antara guru dan murid seharusnya menjadi subjek dan subjek di mana objeknya adalah realitas sosial yang akan diubah. Harapannya, dengan refleksi yang diberikan oleh bu Prani, sang murid dapat menemukan sendiri kebenaran yang didapat berdasarkan pengalamannya sehingga dapat merubah hal buruk yang ada di dalam diri mereka atau pun di dalam realitas sosial yang mereka lihat dan hadapi.

Judul resmi bahasa inggris dari film Budi Pekerti adalah Andragogy. Andragogi berasal dari bahasa latin “andro” yang berarti orang dewasa (adult) dan “agogos” yang berarti memimpin atau membimbing. Jadi Andragogi adalah ilmu bagaimana memimpin atau membimbing orang dewasa atau ilmu mengajar orang dewasa. Ini dapat berarti bahwa pembelajaran yang Bu Prani beri baik secara langsung mau pun tidak langsung mencerminkan pembelajaran yang seharusnya dapat dimengerti orang-orang dewasa. Karena orang yang telah mencapai level kedewasaan memiliki level kebijaksanaan dan kesadaran yang lebih tinggi daripada orang yang belum dewasa. Seperti bu Prani yang menegur seorang bapak-bapak yang menyerobot antrean, seharusnya bapak tersebut sebagai individu yang telah dewasa dapat menanggapi teguran yang bu Prani beri dengan bijaksana. Orang yang merundung mau pun memviralkan bu Prani di dunia maya adalah orang-orang dewasa. Film Budi Pekerti seolah-olah memberikan pembelajaran kepada orang-orang dewasa bagaimana menjadi pribadi yang lebih bijaksana dengan mencapai level kesadaran kritis seperti yang dimiliki bu Prani agar bisa mencari tahu kebenaran yang objektif dari pendapat-pendapat umum yang belum tentu benar. Namun, satu hal yang menarik adalah pada film ini tidak ada satu pun dialog yang mengajari penonton bagaimana cara berbudi Pekerti, seolah-olah penonton ‘dipaksa’ untuk mencapai kesadaran kritis dan berefleksi atas apa saja yang terjadi di film ini.
Bentuk film dari Budi Pekerti menggunakan pendekatan gaya penceritaan naratif dengan Struktur Hollywood Klasik. Menurut Bordwell dan Thompson, Struktur Hollywood Klasik adalah penceritaan yang memiliki goal, need, dan desire, kemudian perkembangan naratif berdasarkan kaidah sebab akibat dan pada bagian akhir film terdapat closure. Goal yang dimiliki bu Prani adalah menyelesaikan masalah cyberbullyingnya. Need yang dimiliki Bu Prani adalah membuat orang-orang percaya bahwa videonya yang viral di dunia maya bukanlah mengumpat pada penjual putu. Sedangkan desire bu Prani menginginkan namanya tetap menjadi baik.

Skenario dari film Budi Pekerti juga menggunakan teori penciptaan grafik Elizabeth Lutters. Grafik ini diawali gebrakan, lalu turun atau reda beberapa saat namun selanjutnya diikuti oleh konflik yang naik, lalu datar sedikit, terus naik lagi dan datar sedikit seperti anak tangga sehingga mencapai titik konflik yaitu klimaks. Setelah itu ada katarsis atau penjernihan sedikit kemudian tamat. Hal ini terimplementasikan di dalam skenario Budi Pekerti di mana konfrontasi pertama muncul dengan cepat di babak awal film. Lalu, terlihat mereda sesaat saat alumni-alumni murid bu Prani mendukungnya dan memberikan klarifikasi atas kebaikan dan reflesi yang pernah diberikan oleh bu Prani namun konflik meningkat kembali saat video klarifikasi Gora atas refleksi gali kuburnya viral dan di’goreng’ oleh netizen.

Warna yang menjadi karakteristik dalam film Budi Pekerti adalah warna kuning dan biru. Warna kuning menjadi benang merah di film ini dan diimplementasikan dengan mencolok pada baju seragam sekolah bu Prani, helm otoped, backdrop, dan masker, seakan- akan ‘sengaja’ untuk memberikan ketergangguan ke pada penonton agar kita fokus untuk mengikuti perjalanan permasalahan bu Prani. Menurut Wagner, banyak orang yang percaya bahwa warna kuning itu dapat membuat semangat, tetapi fakta berkata lain, warna kuning menyebabkan kekhawatiran dan membuat mental seseorang tertekan dan stress. Warna kuning di film ini mendominasi untuk memberikan gambaran karakter bu Prani yang sepanjang cerita selalu terlihat khawatir, tertekan, dan stress. Gambaran mental tersebut juga dipertegas dengan close up shot yang sering memperlihatkan ekspresi wajah bu Prani yang tidak bahagia. Fungsi penting dari penggunaan tipe shot ini adalah adegan lebih terasa intim, karena penonton bisa melihat dengan jelas perilaku dan emosi, terutama pada bagian wajah tokoh.

Warna kuning yang diimplementasikan pada masker duckbill yang dipakai di film ini juga melambangkan paruh burung yang mayoritas berwarna kuning. Paruh burung dilambangkan sebagai kicauan masyarakat yang tiada hentinya mengomentari orang lain, seperti kondisi bu Prani yang selalu dihujat atas kebenaran palsu yang dipercayai oleh masyarakat. Lambang burung atau unggas juga digunakan pada kaos bergambar elang bapak- bapak yang menyerobot antrean, gestur Muklas yang menirukan burung unta, dialog pak Didit yang melakukan gestur ayam “petok-petok” saat makan malam keluarga di foodcourt, posisi Tita yang seperti induk ayam saat diam-diam merekam mbok Rahayu, dan posisi bu Prani yang seperti ayam saat mengunjungi rumah mantan anak muridnya untuk mencari keberadaan Gora. Keluarga bu Prani terlihat seperti kawanan burung yang mencoba untuk berbicara namun diserang oleh burung-burung lainnya.

Warna biru yang juga mendominasi dalam film diimplementaasikan pada kursi sekolah, tirai, baju seragam sekolah, jaket, dan jas hujan, Menurut Bellantoni, warna biru bisa melambangkan rasa tenang, tetapi bisa juga melambangkan rasa terasingkan, pasif, dan kesedihan. Warna biru mempertegaskan keterasingan atau alienasi yang dirasakan oleh bu Prani, di saat semua orang merundung dan membencinya. Alienasi adalah suatu keadaan manusia mengalami keterasingan dari seseorang atau atas sesuatu. Penggembaran kesedihan bu Prani dan keluarganya ditampakkan dalam film ini melalui warna biru yang turut mendominasi.

Salah satu konsep sinematografi di dalam film Budi Pekerti yang tidak kalah menarik adalah frame on frame. Konsep ini memberikan kesan bahwa bu Prani dan keluarganya sedang diintai oleh sebuah layar yang siap memviralkan mereka kapan saja. Budaya mem”framing”kan seseorang di dunia maya terlihat sebagai sesuatu hal yang biasa saja di era sekarang. Selain itu, konsep ini juga memperlihatkan sebuah karakter seperti berada di penjara, yang mencerminkan situasi dan kondisi keluarga bu Prani yang terkungkung dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Pada awal terjadinya masalah, dalam sudut pandang psikoanalisis, ego bu Prani mengembangkan sistem pertahanan diri atau Defense Mechanism dengan penyangkalan (denial), yaitu menolak keberadaan ancaman eksternal bahwa video “asui” nya viral di dunia maya. Hal ini terlihat saat bu Prani bereaksi biasa saja saat Muklas dan Tita panik dengan viralnya video bu Prani di internet. Serta bu Prani yang menolak untuk mengubah gaya rambut saat diajak Muklas pergi ke salon agar orang-orang tidak mengenalinya. Ego bu Prani mengembangkan sistem pertahanan diri tersebut untuk mengurangi kecemasan karena ketika ego tidak mampu menyeimbangkan antara tuntutan Id dengan relita dan nilai nilai moral (super ego) akan terjadi kecemasan atau ansietas.

Namun, setelah masalah bertambah banyak dan rumit. Bu Prani tidak mampu lagi untuk menyangkal sehingga ia merasakan kecemasan objektif (ketakutan yang berasal dari dunia nyata) dan kecemasan moral (ketakutan yang berasal dari nilai moral. Jika tidakan berlawanan dengan nilai moral, seseorang akan merasa malu/bersalah).
Menurut Jacques Lacan, kecemasan adalah pengalaman emosional yang melibatkan perasaan takut dan ketidakpastian. Kecemasan tidak hanya berhubungan dengan ancaman yang nyata, tetapi juga ancaman yang dibayangkan dan fantasi yang muncul dalam pikiran kita. Lacan berpendapat bahwa kecemasan tidak dapat diatasi atau dihilangkan, tetapi dapat dikelola dan diatur. Lacan mengajukan teori “Realitas, Simbol, dan Imagineri” (the Real, the Symbolic, and the Imaginary) yang menjadi kerangka teoretis untuk memahami kecemasan. Menurut Lacan, ketiga domain ini saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Realitas (the Real) adalah domain keberadaan fisik, yaitu kenyataan yang tidak dapat diubah atau dihindari. Contohnya, kematian atau penderitaan fisik. Ketika kita menghadapi kejadian yang terjadi dalam realitas, kecemasan dapat muncul sebagai reaksi alami. Simbolik (the Symbolic) adalah domain bahasa dan budaya, yang memungkinkan kita untuk memberikan arti pada pengalaman kita. Dalam domain simbolik, kita menciptakan konsep, nilai, dan sistem sosial yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan memahami satu sama lain. Kecemasan dalam domain simbolik muncul ketika kita merasa tidak memahami konsep atau nilai tertentu atau merasa tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain. Imagineri (the Imaginary) adalah domain psikologis yang terkait dengan gambaran mental kita tentang diri dan dunia di sekitar kita. Imagineri membantu kita membentuk identitas dan merasakan hubungan sosial. Kecemasan dalam domain imagineri muncul ketika kita merasa tidak aman dalam hubungan sosial atau merasa tidak memiliki identitas yang jelas.

Saat kondisi semakin tegang akibat refleksi gali kuburnya yang ia berikan pada Gora dikecam oleh semua orang serta egonya sudah tidak bisa melakukan sistem pertahanan diri, domain psikologis imagineri bu Prani muncul karena ia merasa banyak serangan yang didapatnya. Selain itu, bu Prani merasa kehilangan identitas dirinya. Hal itu tercermin pada dialog bu Prani yang berkata “Ibu itu salah apa? Ibu kudu minta maaf apa?”. Ia berkata demikian karena merasa kebingungan dan teralienasi dari dunia yang membencinya.

Kondisi teralienasi juga diperlihatkan di dalam adegan bu Prani yang menyalakan berbagai warna lighting setelah melakukan klarifikasi bersama Muklas. Shot di dalam adegan ini menerapkan gaya flat space. Kesan ruang datar atau flat space, memiliki dampak padat, sempit atau kesan bernuansa negatif dalam sebuah frame. Sudut pengambilan gambar dalam shot ini juga menerapkan frontal planes, yaitu pengambilan gambar yang dilakukan tepat berada di depan hadapan subjek ataupun objek sehingga mengeliminasi titik-titik vanishing point yang memberikan dampak ilusi kedalaman atau tiga dimensi. Posisi bu Prani yang berada berada di pinggir frame juga mengeleminasi kedalaman dan memperkuat pembentukan flat space. Kondisi alienasi menjadi mekanisme pertahanan dari korban perundungan.
Pada malam saat pak Didit hilang, Muklas memaksa bu Prani membuat video klarifikasi bahwa ia bersalah dan akan bertanggung jawab untuk mendapatkan simpati masyarakat agar mauw membantu menemukan pak Didit. Setelah melalui banyak perdebatan, akhirnya bu Prani dengan berat hati membuat video klarifikasi tersebut. Namun, bu Prani menunda untuk mengunggah video tersebut. Adegan ini memperlihatkan bagaimana bu Prani berpikir bahwa ia tidak ingin merelakan suatu kebenaran dihancurkan begitu saja hanya untuk memuaskan orang lain.

Bu Prani dengan imaginerinya berusaha untuk tetap berpikir dan bertindak dengan kesadaran kritis, meski ia teralienasi oleh lingkungannya karena berada di dalam lingkungan yang menolak Conscientizacao. Conscientizacao digunakan untuk mendeskripsikan perkembangan seorang individu bergerak dari kesadaran magis menuju kesadaran naif hingga sampai pada kesadaran kritis. Orang-orang yang merundung dan memviralkan bu Prani baik di dunia nyata mau pun di dunia maya berada di level kesadaran naif karena mereka mempercayai dan mewakili mayoritas masyarakat yang menganggap pendapat umum adalah sebuah kebenaran, padahal pendapat umum adalah penerusan nilai-nilai yang mengandung proses dehumanisasi. Mayoritas masyarakat tersebut berada di level kesadaran naif dan menolak conscientizacao karena memilih untuk mempercayai kebenaran umum yang salah bahwa bu Prani mengumpat penjual putu, tanpa mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya yang mencerminkan level kesadaran kritis.

Di saat situasi semakin kacau, bu Prani mendapat laporan dari Daru tentang refleksi praktikum kecambah yang dilakukannya. Ia memperlihatkan bahwa kecambah yang didengarkan suara “bodoh, goblok, tolol, pethuk, ubur-ubur” dengan kecambah yang tidak diperdengarkan suara tersebut sama-sama memiliki panjang 23 cm. Hal ini di luar ekspektasi bu Prani. Namun, hal yang bisa kita lihat bahwa dua kecambah ini dapat diibaratkan seperti manusia. Manusia yang sering diejek dan dirundung tetap bisa bertumbuh seperti manusia lainnya. Kecambah tersebut seperti mencerminkan bu Prani, seorang karakter yang diejek dan dirundung oleh satu negara tetapi tetap dapat bertumbuh menjadi manusia yang utuh. Tidak lama, bu Prani mendengarkan rekaman refleksi yang ia beri ke muridnya tersebut, yaitu suara “bodoh, goblok, tolol, pethuk, ubur-ubur”. Ini memperlihatkan bahwa Bu Prani yang selama ini memberikan refleksi kepada orang lain, kini ia melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. Bu Prani merasa ada andil dari perbuatannya yang menggiringnya ke permasalahannya. Sama seperti protagonis lainnya, bu Prani memiliki kelemahan yang dapat membuat kita teridentifikasi.
Hal yang paling menarik dalam film Budi Pekerti adalah di bagian akhir penyelesaian dan katarsis. Dengan bantuan bu Tunggul, seorang psikolog dari pak Didit, bu Prani dapat bertemu dengan Gora setelah mencarinya kesana kemari. Bu Prani meminta maaf pada Gora jika refleksi gali kubur yang pernah ia beri dulu membuatnya trauma. Namun, ternyata Gora tidaklah trauma. Gora malah berterima kasih pada bu Prani karena telah membuatnya lebih menghargai kehidupan dan tidak berkelahi lagi. Akhirnya, kepala sekolah meminta Gora untuk melakukan mengunggah klarifikasi bahwa ia tidak trauma atas refleksi yang diberikan oleh bu Prani. Saat Gora hendak direkam, Gora meminta izin untuk pergi ke toilet, namun Gora tidak kembali dalam waktu yang lama. Bu Prani lalu menyusulnya ke toilet. Gora berendam di kolam ikan kamar mandi untuk berpikir sejenak. Dia memikirkan alasan bohong apa yang harus dia lontarkan agar alasannya ke psikolog tidak dicari-cari oleh netzen. Gora merasa nyaman dengan kuburan, bau tanah, dan bau kamboja. Hal tersebut membuatnya gembira. Namun, Gora takut kebiasannya tersebut diviralkan kembali.

Id bu Prani menginginkannya bebas dari cyber bullying yang menghancurkan nama baik dan keluarganya, namun super ego bu Prani tidak ingin jika Gora berbohong dan kehidupannya diusik oleh netizen, maka ego bu Prani menyeimbangkannya dengan membuat keputusan untuk mengundurkan diri dari sekolah, sehingga ia tidak harus membuat Gora berbohong yang mana hal tersebut sangat bertolak belakang di dalam prinsip kehidupannya. Hal itu tercermin pada dialog bu Prani yang berkata pada Gora “kalau kamu bohong, berarti kamu tidak menangkap pelajaran ibu”. Kemudian di satu sisi, bu Prani juga akan terbebas dari lingkungan yang hanya mementingkan keuntungan sepihak semata.

Bu Prani juga memberikan refleksi terakhir pada Gora untuk menutup kedua telinga, mengatur napas, dan mendengarkan detak jantung sendiri serta menghiraukan sejenak pikiran-pikiran berisik yang seringkali mengusik. Hal ini menandakan bahwa kesadaran yang dimiliki bu Prani membawanya untuk tidak memedulikan lagi pendapat-pendapat buruk orang lain dan memilih untuk mendengarkan suara hatinya sendiri. Bu Prani memilih untuk meninggalkan semua hal yang tidak sejalan, bertentangan, dan merugikannya. Hal ini menjadi titik balik kemenangan bu Prani. Mungkin, orang menilai bahwa bu Prani kalah karena ia kehilangan pekerjaan dan tidak dapat menyelesaikan masalahnya. Namun, kemenangan yang sesungguhnya baru saja diraih oleh bu Prani.

Di hari terakhir bu Prani menjadi guru di sekolahnya, bu Prani disambut hangat oleh murid-murid dan guru-guru lainnya. Mereka mengantar bu Prani pulang dengan jalan kaki walaupun keadaan kota Jogja sedang hujan. Setelah bu Prani sampai di rumahnya, anggota keluarga lain yaitu pak Didit, Muklas, dan Tita sedang mengangkut barang-barang untuk pindahan. Suatu hal yang menarik juga terlihat saat mereka meninggalkan ring light di rumah kontrakan itu. Ring light di dalam film Budi Pekerti merupakan properti yang sangat menggerakkan naratif. Dari awal film sampai akhir film, kita selalu melihat adanya ring light. Ring light sering digunakan untuk membuat tampilan wajah menjadi cerah dan tanpa shadow. Namun, saat ring light ditinggalkan, ini menandakan bahwa keluarga bu Prani tidak butuh menjadi sempurna untuk menjadi benar. Mereka juga meninggalkan bayang-bayang jejak digital yang selama ini menghantui keluarga mereka.
Keluarga bu Prani lalu melakukan perjalanan untuk pindah ke tempat yang baru. Suasana hujan tampak masih berlanjut. Hujan yang membersamai perjalanan mereka seolah- olah menjadi sebuah penjernihan atau katarsis untuk keluarga bu Prani setelah akhirnya pergi dari lingkungan yang lama. Setelah itu, saat kondisi jalanan sedang macet, Tita membeli bakso dan menyuapi semua anggota keluarga satu persatu. Hal ini terlihat seperti perjamuan ekaristi yang merupakan sakramen untuk melambangkan ungkapan syukut atas kebaikan Tuhan. Bakso sendiri juga memiliki latar belakang filosofi tentang kasih sayang seorang anak terhadap ibunya. Tita, seorang anak dari bu Prani yang dari sejak awal permasalahan dengan lantang dan berani selalu membela bu Prani, menjadi bukti kasihnya ke pada ibunya. Sampai pada akhir film ditutup, terlihat mobil yang mereka sewa untuk pindahan melintasi sebuah jembatan. Ini menjadi penegasan bahwa mereka melakukan transisi ke tempat yang baru ke fase yang lebih baik.

Jika diulas berdasarkan Struktur Hollywood Klasik, karakter bu Prani tidak mencapai tujuannya yaitu terbebas dari masalah yang membuatnya viral atau dapat dikatakan film Budi Pekerti memiliki akhir penceritaan sad ending. Namun, bagi saya akhir penceritaan film Budi Pekerti bukanlah sad ending, loser story, atau menggantung seperti yang banyak dibicarakan khalayak ramai. Bu Prani tidak kalah. Keluarganya tidak terhina. Bu Prani dan keluarganya berhasil lepas dari konstruksi sosial yang ‘busuk’ yang meracuni mereka perlahan-lahan. Dengan kepindahan mereka dari lingkungan lamanya dan keluarnya bu Prani dari institusi yang ingin menrenggut prinsipnya, menandakan kemenangan dari bu Prani. Bu Prani menang bukan hanya sebagai karakter protagonis dari sebuah film. Melainkan ia juga menang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang mengingatkan kita semua untuk memegang teguh prinsip dan nilai-nilai yang kita pegang selama ini melalui kesadaran kritisnya.

Berkomentar